Friday, June 14, 2013

Berikut Beberapa Cara Saat Metering Kamera Mulai Kacau

El mando de la nave
Metering dalam kamera kita dirancang untuk membaca exposure secara benar saat subyeknya bernuansa mid-tone. Subyek bernuansa mid-tone itu contohnya rumput yang hijau atau langit biru, namun mid-tone yang sempurna sebenarnya adalah warna abu-abu 18%. Jadi saat memotret subyek yang bernuansa mid-tone, kamera kita jarang melakukan kesalahan exposure, tidak terlalu terang namun juga tidak terlalu gelap, pas. Untungnya, kulit manusia termasuk mid-tone, sehingga saat digunakan memotret orang kamera kita lumayan oke.
Problem muncul saat kita ingin memotret subyek yang bukan mid-tone, misalnya kita ingin memotret pre-wedding dengan pasangan yang memakai baju serba putih dengan latar belakang pasir putih? Metering kamera akan membuat foto kita lebih gelap, baju dan pasir putih aan terlihat abu-abu sementara kulit akan menjadi lebih gelap.
White on White
Saat kita ingin memotret kamera hitam yang terletak di meja dengan taplak berwarna hitam? metering kamera akan membuat kamera tampak lebih terang daripada aslinya.
Intinya, kamera akan membawa warna yang terlalu gelap ataupun terang ke arah abu-abu, kearah mid-tone.

Berikut ini penjelasan dan percobaan sederhana yang lebih mudah dimengerti:
Situasi diatas bisa kita gambarkan dalam sebuah simulasi sederhana menggunakan tiga lembar kertas: masing-masing kertas warna putih, warna hitam dan yang ketiga warna abu-abu. Kita foto masing-masing kertas dengan mode manual, kita lihat metering di angka 0, angka +2 dan angka -2, dalam bahasa fotografi kita mabil exposure yang pas, dan over serta under 2 stop.
Hasilnya untuk kertas abu-abu:
Abu abu
Untuk kertas hitam:
Hitam
dan untuk kertas putih:
Putih
Apa persamaan yang anda lihat diatas? Kertas manapun (abu-abu, hitam maupun putih) saat difoto dengan angka metering di 0, hasilnya adalah abu-abu.
Apa makna percobaan kecil-kecilan diatas dalam situasi permotretan sehari-hari? Saat kita memotret subyek yang mayoritas warnanya hitam pekat, kita harus mengantisipasi bahwa kamera akan membuat subyek tampak lebih terang di foto. Sementara saat memotret subyek yang dominan putih, kamera akan menghasilkan foto dimana subyek dibuat lebih gelap. Itulah gunanya tombol exposure compensation di kamera anda.
Kompensasi exposure compensation
Lain kali anda memotret pasangan serba putih di pantai putih, anda bisa melakukan kompensasi agar yang putih terlihat tetap putih. Gunakan kompensasi +2 atau +1 dari hasil metering kamera. Atau kalau anda cerdik, mengingat kulit manusia itu mid-tone, ambil pengukuran metering di muka mereka dengan mode spot metering. Dan kalau mau super hati-hati, saat kondisi subyek mulai tricky, cara paling aman adalah bracketing.

Selamat mengkompensasi.

Tuesday, June 11, 2013

Tips Foto Akuarium


akuarium-1
Anda punya akuarium dirumah? Atau anda akan berkunjung ke akuarium raksasa seperti di Seaworld? Nah cobalah jadikan akuarium sebagai obyek foto yang menarik. Tantangan memotret di akuarium adalah adanya kaca yang terletak diantara lensa dan obyek foto, sedangkan kita ingin menghasilkan foto tanpa ada jejak kaca sedikitpun. Tantangan lainnya adalah keterbatasan cahaya.
Kalau selama ini anda sudah mencoba membuat foto dengan obyek ikan (atau tanaman) didalam akuarium dan selalu tidak memuaskan, cobalah beberapa tips berikut ini:

  • Gunakan lensa tercepat yang anda miliki. Karena ikan didalam akuarium cenderung selalu bergerak padahal pencahayaan di akuarium cenderung sangat kurang dibandingkan diluar ruangan. Oleh karena itu, manfaatkan lensa tercepat yang anda miliki. Lensa dengan bukaan f/2.8 atau lebih cepat akan membantu.
  • Belilah Rubber Lens Hood. Harganya sekitar Rp. 100 ribu, namun sangat bermanfaat. Ketika memotret obyek melewati kaca, kita harus pastikan bahwa jarak antara ujung lensa dan kaca harus serapat dan sestabil mungkin. Dengan memasang lens hood karet, kita bisa membuat lensa seperti menempel erat di kaca dan dengan begitu maka pantulan kaca akan bisa dihilangkan.
  • Jangan Gunakan Filter Polarizer. Jika anda memasang filter polariser (CPL) saat memotret obyek melewati kaca, besar kemungkinan akan timbul color flare(cahaya tambahan yang muncul didalam foto akibat sudut pantulan) yang merusak foto anda.
  • Posisikan Kamera Tegak Lurus Dengan Kaca. Karena anda akan memotret melewati kaca, pastikan posisi lensa benar-benar tegak lurus dengan bidang kaca. Jika agak miring, maka akan timbul efek perbesaran yang aneh karena kaca dan air seolah-olah berperan sebagai kaca pembesar.
  • Set ISO Sebesar Mungkin.
    Seringkali lensa cepat pun tidak cukup untuk menangkap gerakan cepat binatang air, sebagai contoh untuk memotret ubur-ubur lincah diatas, ISO harus dikorbankan sampai dengan 3200 karena kurangnya pencahyaan. Yang penting obyek tertangkap dengan tajam, meskipun noise jadi terlihat seperti tampak dibawah ini.
Sumber: http://belajarfotografi.com

Saturday, June 8, 2013

Memahami Konsep ISO

Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah.


  1. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja.
  2. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.
Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya set ISO di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?
Secara garis besar:
  1. Saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 (dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av), kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2 kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik.
  2. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi: 1/500 detik.
  3. Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh, kita namakan menaikkan esksposur sebesar 1 stop.
Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority – S atau Tv), dan ubah-ubahlah setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 …dst, lihatlah perubahan besaran aperture anda.

Wednesday, June 5, 2013

Memahami Piksel Dan Resolusi


Piksel dan Megapiksel

Sebuah foto digital tersusun atas jutaan titik kecil bernama piksel (pixel). Pixel sendiri adalah kata yang berasal dari singkatan Picture Elements. Masing-masing piksel membawa informasi yang menentukan warna (hue), kekuatan warna tersebut (saturation) dan seberapa terang warna tersebut ditampilkan (brightness).
Karena hampir semua foto terdiri dari jutaan piksel (1 megapiksel = 1 juta piksel), maka mata telanjang kita hampir tidak bisa mengenali lagi sebuah piksel secara terpisah, yang terlihat adalah satu kesatuan utuh foto dengan gradasi halus antara terang-gelap, pergeseran warna dan tone.
Kalau mau melihat sebuah piksel, sesekali cobalah resize resolusi foto karena . Seperti foto dibawah ini, foto ini memiliki ukuran resolusi 600×450 piksel. Diukuran yang lumayan kecil seperti ini kita masih belum bisa melihat sebuah piksel, semua tampak halus dan mulus.
Piksel megapiksel resolusi 1
Namun dengan mengubah resolusi menjadi 100×75 piksel, kita mulai bisa melihat bagaimana piksel menyusun foto:
Piksel megapiksel resolusi 2
Apalagi dengan resolusi rendah 40×30 piksel, masing-masing kotak piksel akan mulai terlihat seperti susunan puzzle. Kita bisa melihat piksel demi pikselnya – fenomena ini biasa disebut pixelate:

Piksel megapiksel resolusi 3

Resolusi Foto Untuk Print dan Layar Monitor

Resolusi sebuah gambar digital diukur dalam pixel per inch (ppi – piksel per inchi), dan resolusi standar untuk kualitas foto adalah 300 ppi. Jadi kalau kita tahu berapa megapiksel yang dimiliki sebuah kamera digital, kita bisa mengetahui ukuran print yang optimal untuk foto yang dihasilkan kamera tersebut.
Sebagai contoh, kita asumsikan sebuah kamera digital yang memiliki resolusi 6 Megapiksel (MP) dengan ukuran tepatnya adalah 2816 piksel (panjang) x 2112 piksel (lebar) – sehingga totalnya menjadi 6 MP. Untuk menghitung ukuran print optimum yang bisa dihasilkan kamera kita bagi 2816 x 2112 piksel dengan 300 ppi dan hasilnya adalah 9,5 dan 7 inchi. Jadi sebuah kamera digital dengan resolusi 6MP bisa menghasilkan print foto dengan ukuran 9,5 x 7 inchi atau 24 x 18 cm.
Untuk layar monitor, standar yang dipakai adalah 72ppi (Windows) dan 96ppi (Mac), jadi tampilah di layar monitor sebenarnya kalah jauh dibandingkan dengan resolusi standar untuk print (300 ppi). Artinya adalah, sebuah foto yang yang masih tampak bagus di monitor belum tentu bagus saat di print, namun sebuah foto yang mulai kelihatan pixelate saat di print di 300 ppi bisa jadi masih tampak halus di monitor komputer.

Tabel Megapiksel vs Ukuran Print Sebuah Foto

Dibawah ini adalah contoh tabel seberapa optimum kemampuan kamera anda menghasilkan sebuah foto yang di print pada 300 ppi atau 200 ppi. Secara umum, rata-rata kamera digital sekarang (yang mulai mendekati angka 24 megapiksel sebagai resolusi standar), memiliki kemampuan print  jauh lebih besar dibanding rata-rata kebutuhan pemakainya. Kecuali kalau kita memang ingin membuat poster ukuran raksasa yang di set di 200 ppi, kamera kita jarang sekali dipakai sesuai kemampuannya menghasilkan print foto, apalagi biasanya kita hanya memelototi sebuah foto di layar komputer.  Ukuran megapiksel sebuah kamera bukanlah faktor  terpenting saat anda ingin membeli sebuah kamera.

Kamera Ukuran Print (300 ppi) Ukuran Print (200 ppi)
6 Megapiksel 24 x 18 cm (9,5 x 7 in) 36 x 27cm (14 x 10,5 in)
7 Megapiksel 25 x 19 cm (10 x 7,5 in) 39 x 29cm (15,5 x 11,5 in)
8 Megapiksel 28 x 20 cm (11 x 8 in) 42 x 30 cm (16,5 x 12 in)
10 Megapiksel 33 x 20 cm (13 x 8,5 in) 49 x 33 cm (19,5 13 in)
12 Megapiksel 37 x 24 cm (14,5 9,5 in) 55 x 36 cm ( 21,5 x 14 in)

Saturday, June 1, 2013

7 Tips Fotojurnalisme

Damir Sagolj adalah fotografer Reuter asal Sarajevo yang berbasis di Thailand. Dalam video berdurasi 4 menit ini, ini dia berbagi 7 tips fotojurnalisme. Silahkan disimak:
Berikut ketujuh tipsnya dalam bahasa sederhana:


<iframe src="http://player.vimeo.com/video/48815231?title=0&amp;byline=0&amp;portrait=0" width="400" height="300" frameborder="0" webkitAllowFullScreen mozallowfullscreen allowFullScreen></iframe>

1. Antisipasi

Saat momen penting datang, anda harus sudah siaga. Caranya? saat datang ke lokasi jangan bengong, banyak-banyaklah memotret dan mengasah kamera, dengan begitu saat momen terjadi kita tak lagi kaku dengan kamera.

2. Riset

Saat ditugaskan disebuah tempat baru, anda harus mengetahui semua tentang lokasi tersebut, orang-orangnya dan cerita mengenai lokasi tersebut.

3. Bertemanlah

Dilokasi manapun dimana anda ditugaskan, carilah koneksi dan teman yang sangat vital dalam membantu memecahkan banyak masalah. Anda tidak akan tahu kapan membutuhkannya, namun anda pasti membutuhkannya.

4. Buatlah Prioritas

Dalam meng-cover sebuah berita, anda harus membuat prioritas dan harus bisa berfokus pada prioritas tertinggi anda. Tidak mungkin melakukan semuanya sekaligus.

5. Banyak Berlatih

Anda harus paham betul dengan kamera dan perlengkapan fotografi lainnya. Apapaun yang anda miliki, ketahui cara memaksimalkan dan menggunakannnya secara cepat. Saat momen datang, anda tidak lagi berkutat dalam setting kamera.

6. Berinteraksilah

Bergabung dengan fotografer lain memberi anda wawasan, informasi dan pengetahuan baru.

7. Jadilah Tidak terlihat saat Memotret Orang

Saat memotret orang, memotretlah dengan samar, jangan terlihat mencolok. Anda tidak datang ke wilayah privat seseorang dan bermain-main kamera disitu, anda ingin memotret ekspresi orang dalam keadaan paling natural, dan orang akan terlihat natural saat kita dan kamera kita seolah-olah tidak terlihat. Memotretlah secara samar dan tidak menghebohkan.
Silahkan kunjungi blog Damir Sagolj di sini untuk melihat karya-karnya.

Sumber: http://belajarfotografi.com

Thursday, May 30, 2013

Membuat Lampu Tampak Seperti Bintang Dengan Efek Starburst

Purple Clouds ????
Membuat sumber cahaya malam hari tampak berpendar seperti bintang membuat foto malam kita tampak lebih keren. Efek ini biasanya disebut efek starburst. Untuk membuat starburst, hal mendasar yang harus kita pahami adalah membuat bukaan lensa sekecil mungkin, artinya kita sebaiknya menggunakan angka aperture yang besar (f/11 s.d f/22) dan sebaiknya memanfaatkan lensa yang memiliki focal length lebih pendek.
Kenapa harus seperti itu? well, penjelasannya akan panjang. Singkatnya adalah secara fisika cahaya akan mengalami difraksi (penyebaran) saat melewati lubang sempit (hmm sempit…). Sifat penyebaran cahaya inilah yang membuat sumber cahaya (lampu, bulan, matahari) akan terlihat berpendar dan memiliki lidah, jumlah lidah akan bergantung pada jumlah bilah (blade) aperture dalam lensa anda, lihat spek lensa yang anda miliki, pasti akan ada tertulis “aperture blade”. Sementara untuk menjawab kenapa sebaiknya memilih angka f yang besar dan focal length yang lebih pendk, silahkan baca artikel Memahami Angka Aperture Dalam lensa dan Memahami Aperture.

Kalau masih belum jelas, silahkan lihat gambar berikut ini:
Starburst lampu malam
Gambar diatas menunjukkan, semakin kecil bukaan (angka f semakin besar), lidah cahaya akan semakin maksimal. Sementara di angka f yang kecil, sumber cahaya tampak tanpa burst sama sekali.

Tips Foto Starburst Malam Hari:

lite-bright
  1. Gunakan Tripod – Memotret malam hari dengan angka f yang besar, misal foto diatas dengan f/18, membuat shutter speed akan sangat lama, bfoto diatas 25 detik kenapa?. Jadi pastikan anda memakai tripod agar hasil foto tidak seperti lukisan grafiti.
  2. Perhatikan setting kamera – Untuk jenis foto seperti ini, gunakan angka f yang besar: f/11 atau lebih besar. Set ISO di angka yang rendah, dibawah 400, karena kita akan memotret long exposure. Anda bisa menggunakan mode manual maupun aperture priority, yang jelas perhatikan angka metering kamera. Untuk pemotretan malam hari seperti ada kecenderungan hasil akan over exposure (terlalu terang), jadi pakai exposure compensation angkanya bervariasi tergantung dari lingkungan sekitar, coba pakai under 1 stop sebagai awal dan sesuaikan setelahnya.
  3. Setting Fokus – Dengan angka aperture besar, kita tidak akan terlalu pusing memikirkan fokus, namun kalau mau aman ambil titik fokus secara manual, atau set di infinity.
  4. Manfaatkan highlight alert kamera – anda tahu kan? itu lho peringatan bling-bling yang muncul di LCD saat kita memotret subyek yang terang.
  5. Mulai Memotret – dan jangan malas mengulang dan mengubah setting kalau hasilnya belum sesuai keinginan.
Oke selamat mencoba.

Monday, May 27, 2013

Cara Setting Fokus Lensa Ke Infinity

Saat kita akan memotret sebuah obyek foto yang secara khusus sulit untuk dicari fokusnya, misalnya: foto kembang api, foto star-trail, atau foto bulan, atau hampir semua obyek foto yang jaraknya sangat jauh; kita bisa menggunakan titik fokus infinity (tak hingga) di lensa. Dengan mengeset titik fokus di infinity ini, semua benda yang jaraknya sangat jauh bisa tetap terlihat tajam di foto.


2012 06 09 fokus infinity lensa

Bagaimana caranya?
  1. Cari benda yang sembarang yang jaraknya lumayan jauh, set fokus disitu.
  2. Ganti mode fokus dari autofocus ke manual focus, gunakan tombol di lensa anda untuk mengganti mode fokus
  3. Putar focusing ring: di lensa Nikon & Sigma putar habis ke kanan, di lensa Canon putar habis ke kiri, sampai anda melihat simbol infinity – ∞
  4. Biarkan mode fokus tetap di manual focus, sekarang waktnya anda memotret bulan.
Nah, selamat mencoba.

 
Design by fotografer.net