Thursday, December 13, 2012

Kamera DSLR Nikon D3100 (Review)

D3100 merupakan hasil evolusi panjang dari Nikon dalam mewujudkan DSLR pemula sejak hadirnya D40 di tahun 2007 lalu. D3100 sendiri merupakan versi penyempurnaan dari  D3000 yang membawa perubahan penting seperti memberi fitur live view dan full HD movie, merubah sensor dari CCD 10 MP menjadi CMOS 14 MP, menaikkan ISO maksimal dari 1600 ke 3200 dan memakai prosesor Expeed generasi kedua yang lebih cepat. Nikon sendiri tetap mempertahankan segala hal baik yang ada di D3000 seperti modul AF dengan 11 titik dan adanya Guide Mode untuk membantu pemula memakai kamera dan mendapatkan hasil yang baik. 
 
Berikut spesifikasi dasar dari D3100 :

  • sensor CMOS 14 MP (23.2 x 15.5 mm)
  • live-View
  • Continuous AF pada video mode/live view
  • LCD 3 inci resolusi 230k piksel
  • ISO 100 – 3200, plus Hi-1 (setara ISO 6400) dan Hi-2 (setara ISO 12800)
  • flash sync 1/200 detik
  • 11 titik AF (modul multi CAM 1000)
  • 420-pixel RGB 3D Color Matrix II metering sensor
  • HD Video 1920 x 1080p 24 fps dan 1280 x 720p 30 fps/24 fps
  • AVCHD video codec (H.264), HDMI out
  • EXPEED2 processor
  • pengguna bisa merubah dan menyimpan profil gambar
  • video editing didalam kamera
  • burst 3 fps
  • GPS port
Dalam paket penjualannya, Nikon menyertakan lensa kit AF-S 18-55mm f/3.5-5.6 VR, sebuah charger dan baterai EN-EL 14. Seperti halnya semua kamera DSLR Nikon, dudukan lensa dari kamera ini bertipe F-mount yang artinya semua lensa Nikon bisa dipasang di D3100 ini. Tapi karena D3100 tidak punya motor fokus di bodi maka untuk bisa auto fokus perlu memilih lensa berkode AF-S yang sudah punya motor sendiri di dalamnya. Bila ditinjau dari belakang, layar LCD berukuran 3 inci tampak mendominasi meski tata letak tombol yang ada masih proporsional.
 
Seperti layaknya DSLR pemula lainnya, Nikon hanya menyediakan satu roda putar saja di bagian belakang untuk merubah nilai shutter, aperture dan lain sebagainya. Namun dari sekian tombol di belakang kamera ini, ada sebuah perbedaan yang khas hanya dimiliki oleh D3100 saja (meski akhirnya dipakai juga di D7000) yaitu lever / tuas untuk live-view. Tuas ini memakai pegas jadi bila digeser ke kanan dengan jempol dia akan berbalik lagi ke kiri. Menggeser tuas ini menjadi satu-satunya cara untuk memasuki mode live-view dan selanjutnya bila ingin merekam video tekan saja tombol yang berwarna merah yang berada di tengah tuas live-view ini. Pada mode live-view cermin akan terangkat dan layar LCD akan menampilkan gambar persis seperti memakai kamera non DSLR. Mode live-view akan berakhir bila tidak ada aktivitas dalam 30 detik, atau kita masuk ke menu playback atau tuas live-view digeser lagi. Di samping kanan tuas live-view terdapat sedikit lapisan karet yang menjadi tumpuan jempol sehingga lebih mantap saat menggenggam kamera ini dengan memakai satu tangan.
 
D3100 membuat terobosan bermanfaat dengan memberikan tuas drive mode seperti tampak pada gambar di atas. Drive mode selektor ini berguna untuk menentukan apakah kita ingin memakai single shot (S), continuous shot (3 gambar per detik), self timer atau Quiet Shutter (bunyi jepretan agak lebih pelan). Nikon menempatkan tuas ini dengan cerdas di sisi sebelah kanan mode dial sehingga mudah diakses memakai jari telunjuk tangan kanan. Pada sisi kiri bodi kamera D3100 terdapat penutup karet yang bila dibuka akan menampakkan berbagai port seperti GPS unit, HDMI, USB dan AV. Adanya port GPS dan HDMI tergolong baru di D3100 ini yang mana patut diacungi jempol. Dengan memasang penerima GPS tambahan, foto yang diambil bisa dilengkapi dengan informasi koordinat lintang dan bujur atau istilah kerennya adalah geotagging.

Di sebelah kiri layar berderet lima tombol yang bisa diakses memakai jempol tangan kiri, yaitu playback (untuk melihat hasil foto), MENU (untuk masuk ke semua pengaturan kamera), zoom (zoom disini maksudnya untuk melihat lebih dekat hasil foto yang telah diambil) dan INFO (juga berfungsi untuk masuk ke menu cepat). Di sisi bagian kiri depan (dekat lensa) terdapat dua tombol lagi yaitu untuk membuka lampu kilat dan tombol Fn. Melalui menu, tombol Fn ini bisa difungsikan untuk bermacam pengaturan seperti ISO maupun WB.

Menu dan tampilan layar
Pada mode dial D3100 terdapat pilihan mode eksposur Program (P), Aperture Priority (A), Shutter Priority (S) dan Manual (M). Selain itu terdapat juga mode Auto dan berbagai scene mode seperti potret, pemandangan dan sebagainya. Namun yang unik D3100 juga menyediakan Guide Mode untuk membantu pemula (itulah mengapa kamera ini dibilang cocok untuk pemula) yang memberikan panduan dan pilihan untuk mendapat hasil foto yang diinginkan.

Kita tinjau tampilan Guide Mode dan menu lainnya yang tampak di layar LCD berukuran 3 inci ini.
Guide Mode diawali dengan tiga opsi dasar yaitu apakah kita ingin memotret, melihat hasil foto atau mengatur parameter. Sebagai contoh bila sudah masuk ke menu Shoot, lalu memilih Advanced operation akan nampak berbagai opsi seperti gambar di atas. Berbagai kebutuhan yang sering dijumpai sudah disediakan di opsi ini seperti membuat latar menjadi blur, membekukan gerakan dan sebagainya. Untuk memilih gunakan tombol kendali 4 arah lalu dengan menekan tombol kanan akan masuk ke penjelasan lebih lengkap.
Tampilan LCD secara default khas Nikon akan tampak seperti gambar di atas. Terdapat berbagai pengaturan kamera, informasi shutter dan aperture, indikator titik AF dan ilustrasi bukaan diafragma. D3100 juga memiliki fitur untuk mengatur Picture Control mulai dari yang sudah diatur dari pabrik seperti Standard, Neutral, Vivid, Monochrome ataupun menyimpan style yang berbeda sesuai selera. Salah satu fitur yang berguna adalah pengaturan Auto ISO yang membolehkan kita menentukan berapa ISO maksimal yang diizinkan bila kondisi pencahayaan terlalu minim, lalu berapa kecepatan shutter yang dibatasi sebelum fitur ini mulai bekerja. Fitur ini bila diaktifkan akan tetap aktif dalam mode Manual, sehingga apakah ini akan membantu atau justru mengganggu tentu berbeda-beda bagi setiap orang.
 
Gambar di atas menunjukkan apa yang akan tampil di layar LCD saat masuk ke mode live-view. Secara umum tampilan di layar cukup jelas, cerah dan natural dengan berbagai indikator memeriahkan tampilan layar. Bila indikator ini mengganggu, cukup tekan tombol INFO dan layar akan jadi bersih dari berbagai kode dan angka. Tekan INFO sekali lagi akan memunculkan grid untuk membantu komposisi. Sayangnya tidak ada tampilan live histogram saat live-view di D3100. Berbeda saat dalam mode playback, dimana histogram bisa dimunculkan bahkan bila ingin histogram RGB pun bisa diatur di menu. 

Kinerja secara umum
Meski tergolong murah dan ditujukan untuk pemula, D3100 bukan kamera murahan. Kinerja kamera ini cukup cepat, mulai dari dihidupkan hingga siap mengambil gambar, shutter lag, shot to shot semuanya terasa cepat. Kalaupun ada yang membuat lama itu kalau kita mengatur fitur pengurang debu diaktifkan saat kamera dinyalakan. Dengan demikian saat kamera dinyalakan sensor akan sejenak dibersihkan dulu dan itu bisa membuat kita kehilangan momen bila ada kejadian tak terduga.
 
Kemampuan auto fokus D3100 sangat baik, dengan fleksibilitas tinggi berkat 11 titik AF yang bisa dipilih secara manual atau otomatis. D3100 juga bisa mengenali obyek dari warnanya sehingga bisa mengikuti gerakan si obyek dan tetap menjaga fokus terbaiknya, meski obyek ini bergerak ke kiri kanan atau ke depan belakang, berkat adanya fitur 3D tracking AF. Namun saat mode live-view, kemampuan auto fokus D3100 melambat karena beralih memakai metoda deteksi kontras sehingga agak lambat dalam mencari dan mengunci fokus. Namun di mode live-view terdapat fitur pendeteksi wajah yang bisa mengoptimalkan fokus pada wajah manusia yang dikuncinya.

Soal metering juga D3100 cukup akurat dalam mengukur dan menentukan eksposur yang terbaik, berkat modul 420 piksel RGB yang akurat. Untuk kebanyakan kondisi pemotretan umum memakai mode Matrix sudah bisa didapat akurasi yang baik, namun bila pencahayaan mulai tidak merata maka bisa memakai mode Center Weighted atau Spot meter. Untuk menyeimbangkan kontras di area terang (highlight) dan gelap (shadow) tersedia fitur Active D-Lighting yang sayangnya hanya bisa diset aktif atau mati. Padahal di kamera D5000 ADL ini bisa diatur levelnya dari low, medium dan high.
 
Kualitas rekam video dari D3100 sudah tergolong baik dengan kemampuan resolusi maksimal video adalah 1920 x 1080 piksel 24 fps yang dikompresi memakai MPEG-4 H.264 dengan durasi maksimal 10 menit. D3100 menjadi DSLR pertama di dunia yang bisa auto fokus dan continuous focus saat merekam video. Tapi dalam pelaksanaannya fitur ini justru membuat fokus menjadi lari dan suara fokus cukup terdengar jelas saat video diputar ulang. Untuk itu fitur ini perlu didukung oleh lensa dengan motor fokus berkualitas tinggi.

Kekurangan dari D3100 yang paling nyata adalah tidak adanya fitur bracketing yang agak mengherankan diantara sederet fitur canggih yang dimilikinya. Bracketing akan mengambil tiga foto sekaligus dengan perbedaan eksposur, berguna bila kita memotret obyek dengan kontras tinggi dan ingin memilih satu foto dengan eksposur terbaik. Bracketing juga diperlukan untuk menggabungkan foto di olah digital HDR.

Hasil foto
Hasil foto dari Nikon D3100 secara umum sangat baik, berkat kombinasi sensor 14 MP dan prosesor Expeed 2 yang sudah mampu mengurangi noise di ISO tinggi. Untuk hasil JPG terbaik D3100 juga punya sederet fasilitas seperti ADL dan Picture Control. Foto yang dihasilkan masih bagus sampai ISO 1600 dan mulai noise cukup banyak di ISO 3200, sementara pemakaian ISO Hi1 dan Hi2 sebaiknya digunakan saat terpaksa saja. Singkat kata, meski tidak menonjol dalam semua aspek, D3100 sudah memenuhi harapan semua pemula dengan kombinasi harga, fitur, kinerja, hasil dan ukuran yang sangat berimbang. Kemampuan video di D3100 sebenarnya cuma bonus saja, tapi bonus yang spesial karena sudah mendukung full HD 1080p. Meski tidak secanggih DSLR lain yang lebih mahal, D3100 bisa memberi hasil foto yang sama baiknya berkat sensor beresolusi 14 MP dan fitur ADL. Untuk hasil foto lebih baik D3100 bisa dipasangkan dengan lensa mahal maupun lampu kilat eksternal. Kekurangan D3100 masih dalam batas bisa diterima seperti resolusi LCD yang kurang tajam untuk generasi kamera tahun 2010. Lupakan kamera ini bila anda tidak puas dengan kinerja burst 3 fps, atau sangat perlu fitur bracketing atau punya banyak lensa Nikon lama berkode AF atau AF-D. Tapi bila anda baru pertama ingin memiliki kamera DSLR dan anggaran terbatas, namun tidak ingin salah dalam menjatuhkan pilihan, kami yakin D3100 akan membuat anda merasa puas.

Sistem Kamera DSLR Canon EOS

EF mount
Canon Lens

EOS adalah singkatan dari Electro Optical System yang berarti sistem optik yang memiliki rangkaian elektronik. Canon pertama kali memperkenalkan kamera film EOS pada bulan Maret 1987 dengan meluncurkan EOS 650 dengan kemampuan auto fokus. Saat ini kamera Canon EOS memiliki koleksi lensa yang sangat lengkap, dengan beragam kode dan istilah yang kadang membingungkan. Tulisan ini hendak menjabarkan sejarah singkat dan makna kode-kode yang kerap dijumpai di sistem kamera DSLR Canon EOS khususnya EOS Digital.
 
Sejarah singkat 
 
Kamera EOS Digital pertama dari Canon adalah EOS DSC 3 dengan sensor CCD 1,3 MP (kerjasama dengan Kodak) dan tahap penting dalam manufaktur EOS ada saat Canon akhirnya bisa memproduksi sendiri kamera EOS dengan meluncurkan EOS D30 pada tahun 2000 dengan sensor CMOS beresolusi 3 MP. Sebagai prosesor dari EOS Digital, digunakanlah prosesor dengan nama Digic yang kini sudah mencapai generasi kelima.

Kamera Canon yang dibuat sebelum 1987 memiliki mount FD yang hanya cocok untuk lensa Canon FD. Lensa FD hanya bisa manual fokus dan lensa FD ini tidak bisa dipasang di kamera EOS karena berbeda bentuk dan ukuran. Alhasil, pada saat itu pemakai kamera Canon FD yang ingin menjajal kamera Canon EOS harus membeli lensa baru. 

Transisi dari sistem kamera FD ke kamera EOS menjadi saat-saat bersejarah Canon yang penuh kritik dan terkesan spekulatif. Namun akhirnya kini Canon berhasil menikmati hasilnya karena transisi berjalan sukses dan Canon menebusnya dengan memproduksi banyak lensa untuk sistem EOS Digital yang berkualitas.

Lensa EF, EF-S dan EF-M

Lensa EF (electro focus) adalah lensa buatan Canon yang memiliki mount EF untuk sistem kamera EOS. Lensa EF bisa dipasang di bodi SLR Canon EOS film (35mm) maupun di bodi EOS digital apapun, baik dengan sensor full frame, APS-H maupun APS-C. Yang menjadi ciri sistem Canon EOS adalah seluruh kendali lensa EF diatur secara elektronik, seperti auto fokus dan pengaturan bukaan diafragma. Antara lensa EF dan kamera EOS terdapat pin kontak data yang memungkinkan kamera mengatur banyak hal di lensa, sekaligus mendeteksi jenis lensa yang terpasang.
 
 
Lensa EF memiliki banyak varian baik jenis prime (fix) ataupun zoom. Canon juga memiliki lensa EF kelas atas dengan ciri ada gelang merah di ujungnya yang biasa disebut dengan lensa L series (L : luxury). Lensa L ini memiliki kualitas optik yang prima dan kualitas material bodi yang lebih kokoh dan tahan cuaca.
Pada tahun 2003 Canon meluncurkan DSLR EOS 300D (Digital Rebel) dengan lensa kit EF-S 18-55mm. Inilah pertama kalinya diperkenalkan lensa EF-S dalam sejarah Canon. Lensa EF-S memiliki diameter image circle yang lebih kecil dari lensa EF, didesain khusus untuk DSLR dengan sensor APS-C. Ada issue kompatibilitas disini, yaitu lensa EF-S tidak bisa dipasang di kamera EOS dengan sensor Full Frame. Sebaliknya, kamera EOS Digital dengan sensor APS-C kompatibel dengan lensa EF maupun lensa EF-S. Huruf ‘S’ pada kode EF-S sendiri adalah singkatan dari Short (back focus), maksudnya lensa EF-S memiliki jarak fokus yang lebih dekat antara lensa dengan sensor dibanding dengan lensa EF.

Kini di pasaran tersedia banyak lensa EF dan juga EF-S. Bila anda berencana akan memiliki DSLR EOS dengan sensor full frame seperti EOS 6D, maka berinvestasilah pada lensa EF saja. Namun bila anda merasa cukup puas dengan DSLR EOS sensor APS-C seperti EOS 650D, EOS 60D atau EOS 7D (dan tidak ada rencana upgrade ke full frame), maka lensa EF-S bisa jadi pilihan.

Di tahun 2012 Canon meluncurkan format baru kamera mirrorless dengan nama EOS-M (M : mirrorless), sebuah sistem interchangeable lens dengan kamera kompak tanpa cermin. Meski kamera EOS-M memakai sensor APS-C yang sama seperti kamera DSLR Canon, tapi mount lensanya berbeda yaitu hanya lensa dengan kode EF-M yang bisa dipasang. Lensa lainnya seperti EF atau EF-S hanya bisa dipasang di bodi EOS-M dengan penambahan adapter.

Sistem auto fokus kamera EOS

Pada prinsipnya auto fokus (AF) di kamera EOS memakai motor AF yang ada di lensa, dengan kata lain semua lensa untuk sistem kamera Canon EOS memiliki motor auto fokus didalamnya. Hal ini berbeda dengan sistem Nikon dimana  lensa Nikon yang dibuat sebelum tahun 1992 belum dilengkapi dengan motor fokus (sehingga untuk auto fokus harus mengandalkan motor AF di bodi). Namun perhatikan kalau Canon membedakan kualitas motor fokus di lensanya (lensa murah dan lensa mahal diberikan motor AF yang berbeda jenis dan kualitasnya).
lensa EF
Canon Zoom Lens System
Terdapat dua jenis motor di lensa Canon, yaitu :
  • motor AFD (arc-form drive) atau micromotor drive -> untuk lensa murah
  • motor USM (ultrasonic motor) -> untuk lensa mahal

Motor AFD merupakan motor mikro yang konvensional dan murah. Didalamnya terdapat koil magnet yang berputar bila dialiri tegangan listrik. Motor ini bersuara berisik saat sedang berputar dan kecepatannya pun sedang-sedang saja. Perhatikan kalau lensa Canon EF/EF-S yang tidak diberi label USM artinya motor di dalamnya memakai sistem AFD alias motor fokus biasa.

USM canon
 
Di lain pihak, sistem USM di lensa Canon merupakan teknologi baru yang menggerakkan motor dengan gelombang yang memberikan kecepatan lebih tinggi namun dengan suara yang lebih halus. Prinsip serupa juga diterapkan oleh Nikon dengan motor SWM, Sigma dengan HSM dsb. Namun lagi-lagi Canon membagi lensa dengan teknologi USM ini kedalam dua kelompok, yaitu lensa USM untuk lensa mahal dan USM untuk lensa yang biasa. Semua lensa L series memakai motor jenis USM.

Adapun dua jenis motor USM di lensa Canon, yaitu :
  • USM berbasis ring untuk lensa mahal
  • USM berbasis micromotor untuk lensa yang lebih murah
 
Perbedaan keduanya ada di prinsip kerja dan kemampuan manual fokus instan (FTM : full-time manual). Pada lensa USM berbasis ring, kita bisa langsung memutar ring manual fokus kapan saja kita mau. Jadi berpindah dari auto fokus ke manual fokus bisa dilakukan langsung tanpa memindah tuas AF ke MF. Bila memakai lensa non USM atau lensa USM murah (dengan micromotor), kita harus memindahkan tuas AF ke MF baru memutar ring manual fokus.

Lensa dengan kode USM atau bukan tidak akan berpengaruh pada kualitas optik, karena USM hanya menandakan sistem kerja motor AF saja. Bila anda dalam keseharian sering memotret benda yang bergerak, atau ajang olah raga dan perlu kinerja tercepat dari sistem AF lensa Canon, maka pilihlah lensa dengan teknologi USM didalamnya.
 
40mm STM
Canon Lens EF 40mm FIX
Inovasi berikutnya dalam hal auto fokus di lensa Canon adalah lensa STM. Lensa STM ini (Stepper Motor) dibuat untuk menutupi kelemahan Canon dalam hal auto fokus kontinu saat live view maupun merekam video. Canon mengembangkan teknologi STM ini bersamaan dengan modifikasi sensor (ditemui di EOS 650D dan kamera EOS-M) dimana sensor ditambahkan piksel deteksi fasa sehingga secara teori bisa auto fokus dengan cepat bila memakai lensa STM. Keuntungan kamera 650D yang dipasangkan dengan lensa STM adalah saat merekam video dimungkinkan auto fokus, bahkan fokus kontinu dengan cepat dan tidak bersuara (suara motor fokus tidak terekam di video). Kecepatan fokus dari lensa STM tidak secepat lensa USM, dan manual fokusnya bukan manual fokus mekanis tapi elektronik

Kamera Saku Untuk para 'Enthusiast' - Fuji FinePix X10

Fujifilm meluncurkan kamera FinePix X10 yaitu kamera seri X yang berdesain klasik, mewah dan asli buatan Jepang (sebelumnya sudah diluncurkan Fuji X100 dengan lensa fix dan sensor besar). Berbeda dengan X100, Fuji kali ini memberi X10 lensa Fujinon 4x zoom dengan putaran manual yang dipadukan dengan switch on-off yang praktis, dengan rentang fokal 28-112mm f/2.0-2.8. Sensor di X10 memakai CMOS jenis EXR beresolusi 12 MP dengan ukuran lumayan besar yaitu 2/3 inci sehingga sensitivitas sensor lebih baik dan noise juga lebih rendah. Keuntungan lain sensor CMOS adalah kemampuan memotret cepat, tak heran Fuji X10 ini sanggup diajak memotret cepat hingga 10 gambar per detik dan hasilnya tetap tajam karena terdapat stabilizer optik di lensanya.

http://i.i.com.com/cnwk.1d/i/tim/2011/11/30/Fujifilm_FinePix_X10_35018420_02_620x433.jpg
Fuji Finepix X10
Pada bodi kamera berbalut logam die cast ini terdapat banyak tombol dan pengaturan eksposur. Fotografer yang biasa memakai DSLR akan merasakan dirinya tidak asing saat memakai kamera ini. Urusan auto fokus juga jadi andalan Fuji X10. Terdapat 49 titik matriks auto fokus dengan deteksi kontras yang menjamin kecepatan dan ketepatan fokus. Bila kamera lain lebih suka memberikan jendela bidik elekronik, pada Fuji X10 justru memberikan jendela bidik optik layaknya DSLR dengan cakupan 85%. Untuk urusan movie, kamera ini juga mampu merekam video full HD 1080p. Pada bagian belakang terdapat layar LCD berukuran 2.8 inci dengan ketajaman 460 ribu piksel, sementara di bagian atas terdapat flash hot shoe untuk menempatkan flash eksternal, bila kekuatan built-in flash kamera ini terasa kurang. Fuji X10 ini cocok sebagai pendamping kamera DSLR karena fitur manualnya yang lengkap termasuk RAW dan bisa diandalkan di kondisi low light berkat bukaan lensanya yang besar.

Nikon 1, Generasi Baru Kamera Mirrorless (Nikon)

Nikon akhirnya memperkenalkan format kamera mirrorless mereka untuk mengisi gap antara seri Coolpix dan seri DSLR mereka. Format yang diberi nama Nikon 1 ini memakai mount lensa baru bernama CX mount, dengan sensor berukuran 13.2 x 8.8mm alias 2,7x crop factor. Sebagai langkah awal diluncurkan dua tipe kamera yaitu Nikon C1 dan Nikon J1 serta beberapa pilihan lensa seperti 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm), lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm (setara 27mm) dan lensa all-round 10-100mm VR (setara 28-280mm).
Kedua kamera yang baru saja diluncurkan punya spesifikasi yang cukup lumayan, terutama dalam kinerja auto fokusnya yang sangat cepat dengan mengandalkan hybrid AF, yaitu kombinasi antara deteksi kontras dan deteksi fasa. Berikut fitur kedua kamera Nikon J1 dan Nikon V1 :
Nikon J1
  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret

Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :
  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat (flash) built-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret
http://cache.gawkerassets.com/assets/images/4/2011/09/nikon111_3.jpg
Nikon 1
Karena tidak ada built-in flash di Nikon V1, untuk menyiasatinya Nikon telah mendesain konsep baru flash eksternal tanpa baterai (jadi ditenagai dari baterai kamera) bernama SB-N5 yang dipasang di accesory port (flash ini tidak kompatibel dengan flash hot shoe kamera Nikon lainnya). Flash mungil seharga 1 jutaan ini bisa di bounce dan swivel meski hanya punya Guide Number yang kecil. SB-N5 juga dilengkapi satu lampu LED yang bisa dimanfaatkan untuk menambah pencahayaan saat merekam video.
Lalu siapakah target market Nikon mirrorless ini? Pada dasarnya bukan hal yang mudah untuk meminta para fotografer beralih dari DSLR ke kamera mirrorless. Alasan utama adalah harga kamera mirrorless yang belum begitu populer karena harganya masih tinggi. Alasan lain adalah belum tersedia banyak pilihan lensa dan masalah kompatibilitas (meski Nikon menyediakan adapter sehingga lensa AF-S bisa dipasang di kamera Nikon 1). Nikon tetap menargetkan DSLRnya untuk mereka yang hobi fotografi sampai fotografer kelas pro, sedang Nikon 1 lebih diposisikan sebagai kamera point and shoot, yang dipakai oleh keluarga, travelling, dokumentasi dsb namun tidak mengorbankan kualitas dan kinerja. Nikon 1 ini akan jadi pilihan menarik untuk mereka yang tidak ingin memiliki DSLR (mungkin karena ukurannya atau karena tidak ingin pusing memilih lensa), mereka yang mencari kamera kecil yang lensanya bisa dilepas namun hasilnya tetap memenuhi standar, atau mereka yang ingin memiliki kamera yang handal untuk foto maupun vide

Wednesday, December 12, 2012

Resolusi Foto Yang Optimal Untuk Pencetakan

Pixel adalah unit terkecil yang dapat diwakili atau dikontrol dalam gambar digital. Lebih banyak piksel artinya resolusi lebih tinggi, menghasilkan kualitas gambar yang lebih detail. Satu megapiksel sama dengan satu juta piksel. Kamera modern punya sensor yang pikselnya sangat banyak yaitu antara 10 megapiksel hingga 24 megapiksel. Secara umum, ukuran cetak ditentukan oleh berapa banyak megapiksel yang Anda miliki, yang ditentukan oleh beberapa faktor yang berbeda, termasuk sensor kamera, pengaturan kamera (resolusi dan kualitas gambar), dan pengaturan cetak (resolusi).

Pengaturan kamera

Resolusi dari sebuah sensor adalah perhatian utama dalam fotografi digital. Resolusi yang lebih tinggi memungkinkan untuk pencetakan yang lebih besar. Sebagai contoh, kamera yang memiliki sensor 18 megapiksel (5.184 x 3.456) bisa dipakai untuk mencetak foto berukuran 16 x 24 inci tanpa kehilangan kualitas dan ketajaman. Sebuah kamera DSLR modern dengan sensor full frame bisa memberikan ukuran file maksimum sekitar 26MB RAW, untuk ukuran foto 5616 x 3744 piksel. Tapi jika Anda menyimpan foto dalam format JPEG, ukuran filenya akan menjadi  sekitar 6MB. Jadi dengan kamera yang sama, ukuran file foto dapat bervariasi, berdasarkan format file, subjek, kecepatan ISO, picture style, serta variabel lain.

Pengaturan cetak

Dalam urusan cetak, istilah resolusi berarti kerapatan titik per inci (PPI, sebagian orang menyebutnya DPI). Resolusi cetak memiliki hubungan erat dengan jarak pandang foto, karena semakin foto dicetak dengan ukuran besar maka jarak pandang kita terhadap foto juga seharusya semakin jauh. Sebagai contoh, sebuah foto 3000 x 2000 piksel yang akan dicetak ukuran 4R perlu resolusi 200 atau bahkan 300 PPI, tapi bila akan mencetak ukuran billboard 6 x 20 meter maka 12 PPI atau bahkan 9 PPI sudah cukup. Hal ini karena foto 4R umumnya dilihat dari jarak dekat sehingga perlu punya kualitas yang baik, sedangkan billboard iklan tidak butuh kualitas tinggi karena dilihat dari jarak jauh. Anda bisa juga menaikkan image size dengan teknik interpolasi untuk memungkinkan pencetakan yang lebih besar. Beberapa aplikasi plugin Photoshop seperti Genuine Fractals memungkinkan Anda untuk meningkatkan ukuran gambar dengan menggunakan algoritma interpolasi berbasis fraktal - tanpa kehilangan ketajaman atau detail yang Anda lihat pada gambar sampel.

Pixel Rezise

Jadi untuk bisa optimal dalam mencetak foto, pastikan dulu berapa resolusi sensor kamera anda dan bila kita tahu akan mencetak foto dengan ukuran besar hindari memilih image size yang lebih rendah dari resolusi sensor kamera.Setelah itu perhatikan juga PPI atau resolusi cetaknya, apabila foto dicetak dengan PPI rendah maka hasilnya akan pecah, tidak tajam dan tidak cocok untuk foto yang ukurannya kecil (dibawah 10R). Tapi bila ingin mencetak amat besar, kita bisa menaikkan resolusi gambar (image size) dengan teknik interpolasi atau menurunkan PPI-nya. Perlu diingat kalau secara kualitas gambar di layar monitor tetap saja foto yang resolusi tinggi tampak punya transisi yang halus, terutama di daerah shadow dan di daerah di mana area gelap perlu dipertahankan tanpa menjadi hitam pekat. Jadi meski ada teknik-teknik dan aplikasi untuk manipulasi gambar tetapi perlu diingat bahwa tidak ada aplikasi perangkat lunak dapat menambahkan resolusi gambar yang tidak memiliki resolusi yang cukup.

Istilah dan Fakta Tentang Lensa Kamera

Bagian paling utama dari sebuah sistem pada kamera adalah lensa. Kualitas hasil foto yang dibuat oleh kamera terlebih dahulu ditentukan oleh faktor lensa yang baik, barulah selebihnya diolah oleh sensor dan sistem prosesor gambar pada kamera. Sayangnya saat seseorang menilai baik tidaknya sebuah kamera, faktor lensa justru jadi unsur yang sering terlewatkan, seakan-akan tiap lensa pada kamera adalah sama saja. Seseorang akan lebih cenderung mengejar resolusi yang tinggi, kemampuan ISO tinggi dan sebagainya daripada mencari tahu seberapa baik lensa yang terdapat pada sebuah kamera. Tidak salah memang, karena resolusi adalah faktor yang bisa mengangkat gengsi sebuah kamera, dan jadi hal pertama yang selalu ditanya oleh setiap orang yang melihat kamera kita. Namun setidaknya, dengan mengenal bagaimana lensa yang baik dan apa saja keterbatasannya, kita bisa lebih mengerti kemampuan dari kamera yang kita miliki.
http://dphotomagazine.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2011/10/Canon-8-15mm-Lens-main-670x423.jpg
Fisheye Lens
Berikut adalah istilah-istilah yang sering digunakan saat kita membahas soal lensa pada kamera :
  • Panjang fokal (focal length) : Menentukan bidang gambar yang dapat diambil oleh kamera. Untuk mengambil bidang gambar yang luas dan lebar, lensa yang digunakan adalah lensa wide (dibawah 35mm). Untuk mendapat gambar dengan sudut pandang normal digunakan lensa normal (sekitar 50mm) dan untuk keperluan mengambil gambar yang jauh diperlukan lensa tele (diatas 100mm). Bila lensa hanya memiliki satu jarak fokal saja disebut lensa fix (tetap), sementara bila fokal lensa bisa berubah disebut lensa zoom. Kemampuan zoom lensa diukur dengan membandingkan tele maksimum terhadap wide maksimum, contoh bila lensa zoom dengan spesifikasi panjang fokal wide 28mm dan tele 280mm, maka disebut dengan lensa zoom 10x (atau 280 dibagi 28). 
  • Kecepatan lensa (lens speed) : Tiap lensa memiliki diafragma yang bertugas mengatur banyaknya cahaya yang bisa melewati lensa. Diafragma bisa membesar dan mengecil sesuai nilai aperture yang ditentukan, dinyatakan dengan nilai f. Untuk memudahkan, ingatlah bahwa bukaan besar memiliki nilai f kecil, dan sebaliknya (bukaan kecil punya nilai f besar). Jadi f/3.5 adalah lebih besar dari f/8. Semakin besar bukaan lensa, semakin banyak cahaya yang bisa dimasukkan melalui lensa, dan memungkinkan pemakaian shutter pada kamera yang semakin cepat. Tiap lensa memiliki bukaan maksimum yang berbeda-beda, bisa amat besar (f/1.4) hingga yang lebih kecil (f/4). Oleh karena itu lensa yang memiliki bukaan besar disebut lensa cepat (bisa memakai shutter cepat) dan lensa yang bukaan labih kecil disebut lensa lambat, karena umumnya sering memaksa kamera memakai shutter yang lebih lambat. 
  • Ketajaman lensa (sharpness) : Menjadi faktor penentu dari hasil foto yang baik, biasanya tidak ada ukuran pasti soal ketajaman, namun dengan melihat hasil uji dari review kamera/lensa terhadap test chart, bisa diketahui ketajaman sebuah lensa. Lensa yang baik idealnya haruslah memberi ketajaman yang seragam pada seluruh bidang gambar, baik di tengah ataupun di tepi/sudut. Demikian pula ketajaman pada lensa zoom, idealnya harus tetap tajam baik pada saat wide atapun saat tele maksimum. 
  • Distorsi lensa (lensa distortion) : Adalah suatu fenomena penyimpangan optik yang tidak bisa dihindari karena lensa akan cenderung membengkokkan bidang gambar yang lurus, utamanya saat posisi wide atau tele. Distorsi saat wide biasa disebut barrel distortion (garis lurus menjadi melengkung keluar) dan disaat tele disebut pincushion (garis lurus menjadi melengkung ke dalam). Namun lensa masa kini telah dilengkapi dengan elemen lensa khusus untuk mengurangi cacat lensa yang mungkin terjadi. Istilah lain yang biasa dipakai dalam menilai lensa adalah vignetting, purple fringing, lens flare, dan bokeh. 
Sedangkan yang ini adalah fakta soal lensa : 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLApXfE2CmG8s_F8ocFdCYwdSZ06x0blsXeDlA4zSz_MBDRA8q2Ol87L5NJ7knh3FUdgvnDWyGIv1MBDe9tIFwCKFoVU9qpjuIaSJ4RV7ZHLTGG18qWabrt0HuY4RYDGS_nJHAZQRsbUg/s1600/Canon+EF+15mm+f2.8+Fisheye+Lens+for+Canon+SLR+Cameras1.png
Fisheye Lens
 
  • Lensa memiliki banyak elemen di dalamnya. Semakin banyak elemen, jalur lintasan cahaya akan makin rumit dan cenderung menurunkan kualitas dan ketajaman lensa. Maka itu tidak ada dalam sejarah lensa zoom bisa menyamai ketajaman lensa fix, karena banyaknya elemen yang dimiliki sebuah lensa zoom.
  • Lensa wide akan selalu mengalami penyimpangan/distorsi. Untuk itu jangan paksakan memakai lensa wide untuk memotret wajah orang, karena nanti akan tampak bulat dan gendut. Juga hindari memakai lensa wide untuk memotret garis yang lurus. 
  • Ketajaman lensa tidak selalu sama. Ketajaman lensa akan berkurang saat diafragma dibuka maksimal atau dikecilkan minimal (efek difraksi lensa). Lensa zoom pun akan mengalami penurunan ketajaman saat dipakai di posisi tele. Untuk mendapat ketajaman terbaik, gunakan panjang fokal wide hingga normal, dan gunakan nilai diafragma tengah-tengah (sweet spot) sekitar f/5.6 hingga f/8. Bagian tengah lensa selalu lebih tajam dari bagian tepi / sudut. Lensa yang baik memiliki ketajaman yang masih lumayan baik di sudutnya, dan lensa yang buruk akan mengalami penurunan ketajaman yang parah di bagian sudutnya, istilahnya corner bluriness. 
  • Bukaan diafragma maksimal pada lensa zoom bisa berubah. Demi menghindari desain lensa yang rumit, kebanyakan lensa zoom memiliki ciri bukaan diafragma maksimal akan berbeda pada panjang fokal yang berbeda. Perhatikan tulisan pada lensa, contohnya lensa 35-105mm f/2.8-4.5 artinya “pada posisi wide 35mm, bukaan maksimalnya adalah f/2.8, sementara pada posisi tele maksimum 105mm, bukaan maksimalnya turun hingga f/4.5“ 
  • Lensa super zoom banyak mengalami kompromi. Awalnya tidak ada lensa yang memiliki rentang fokal ekstrim, yang bisa mengakomodir kebutuhan sangat wide hingga sangat tele dalam sebuah lensa. Namun kebutuhan pasar dan persaingan antar merk akhirnya menjadikan produsen terpaksa membuat lensa yang serba-bisa (sapujagad) hingga saat ini ada kamera yang lensanya 36x zoom. Lensa semacam ini banyak kompromi terhadap kualitas dan ketajaman, demi memenuhi ambisi mendapat rentang fokal yang panjang.

Segitiga Eksposur : Shutter, Aperture dan ISO

Dalam fotografi yang menjadi penentu utama adalah eksposur, atau banyaknya cahaya yang terekam saat memotret. Cahaya di alam memiliki rentang intensitas yang beragam, dari yang sangat redup seperti bintang di langit sampai yang sangat terang seperti sinar matahari. Fotografi memerlukan pengaturan eksposur yang tepat sehingga cahaya yang masuk ke kamera bisa diatur sesuai intensitas cahaya yang ada. Kendali untuk eksposur ada tiga, yaitu shutter speed (kecepatan rana), aperture (bukaan diafragma) dan ISO (sensitivitas sensor atau film). Ketiga komponen ini bertanggung jawab terhadap terang gelap foto yang akan dihasilkan, bila foto cenderung gelap disebut juga under eksposur, sebaliknya foto terlalu terang dinamakan over eksposur.
Untuk mengatur ketiga komponen eksposur, biasanya sudah dilakukan otomatis oleh kamera (bila memakai mode AUTO). Dalam hal ini kamera akan berupaya mencari nilai yang paling tepat sehingga foto yang dihasilkan punya eksposur tepat (tidak terlalu terang atau terlalu gelap). Proses ini dimulai dengan metering (pengukuran cahaya) lalu kamera akan melakukan kalkulasi yang rumit dan memutuskan berapa shutter, aperture dan ISO yang akan dipakai. Kita bisa juga melakukan pengaturan manual bila kamera punya mode manual seperti Aperture Priority, Shutter Priority dan Manual Mode. Hampir semua kamera digital membolehkan kita untuk mengatur secara manual nilai ISO yang diinginkan.


Shutter 

Komponen shutter speed (kecepatan rana) mengatur durasi atau lamanya eksposur. Untuk mengatur durasi ini, ada komponen dalam kamera yang bernama shutter, yang bertugas membuka dan menutup. Waktu yang dibutuhkan shutter untuk membuka sampai menutup disebut dengan kecepatan rana, dinyatakan dalam detik. Kecepatan rana di kamera umumnya berkisar antara 1/4000 detik (sangat cepat) hingga beberapa detik (sangat lambat).
Hardware
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan shutter speed adalah : 
  • semakin cepat shutter maka cahaya yang direkam akan lebih singkat, sehingga foto akan semakin gelap
  • semakin lambat shutter maka cahaya akan direkam lebih lama, sehingga foto akan semakin terang
  • shutter cepat bisa dipakai untuk membekukan gerakan atau memotret benda yang bergerak cepat
  • shutter lambat bisa dipakai untuk membuat kesan gerakan, namun bila kecepatan yang dipilih terlalu lambat maka kamera perlu dipasang di tripod (untuk mencegah goyang yang menyebabkan foto menjadi blur)
Aperture

Pada setiap lensa ada sebuah komponen bernama aperture, berbentuk lubang yang bisa diatur diameternya, dari yang terbesar hingga terkecil. Bila bukaan diafragma besar maka lensa akan memasukkan lebih banyak cahaya, bila bukaan dibuat lebih kecil maka cahaya yang masuk akan dikurangi. Besar kecilnya bukaan dinyatakan dalam deret f number, dimana bukaan besar punya f number kecil (misal f/1.8 atau f/2.8) dan bukaan kecil punya f number besar (misal f/22 atau f/36).
 
aperture
Aperture
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan bukaan diafragma adalah : 
  • semakin besar bukaan maka cahaya yang masuk akan semakin banyak, sehingga foto akan semakin terang
  • semakin kecil bukaan maka cahaya yang masuk akan semakin sedikit, sehingga foto akan semakin gelap
  • bukaan besar akan membuat ruang tajam (depth of field) menjadi semakin sempit, sehingga obyek akan tajam sedang latar belakang akan blur (out of focus)
  • bukaan kecil akan membuat obyek dan latar belakang sama-sama tajam
ISO
 
Sebagai komponen ketiga bisa digunakan sensitivitas sensor atau ISO. Bila dulu jaman fotografi film, kita perlu memilih film dengan ASA tertentu, maka di era digital ini nilai ISO bisa dirubah sesuai kebutuhan. Tiap kamera punya sensor yang ISO-nya bisa dirubah dari paling rendah (ISO dasar) sampai paling tinggi. Semakin tinggi ISO maka sensor semakin sensitif atau peka dalam menangkap cahaya. Rentang ISO di kamera umumnya berkisar dari ISO terendah (ISO 100 atau ISO 200) hingga ISO sangat tinggi (ISO 3200 atau ISO 6400).
 
ISO
ISO Setting
Hal-hal yang perlu diingat berkaitan dengan ISO adalah : 
  • semakin tinggi ISO maka sensor semakin peka terhadap cahaya, sehingga foto akan semakin terang
  • semakin rendah ISO maka sensor semakin tidak peka terhadap cahaya, sehingga foto akan semakin gelap
  • ISO tinggi akan membawa dampak adanya noise berupa bintik-bintik pada foto, akibat sensor yang dipaksa untuk lebih sensitif
  • semakin tinggi ISO maka noise akan semakin banyak, batas yang masih bisa diterima antara kualitas dan noise untuk kamera DSLR adalah ISO 1600
  • ISO bisa dinaikkan bila kondisi pemotretan cenderung kurang cahaya, sementara kita ingin memilih nilai shutter yang tidak terlalu lambat
Dengan memahami keterkaitan antara shutter, diafragma (aperture) dan ISO maka kita bisa menghasilkan foto dengan eksposur yang tepat dalam mode manual. Selain itu kita pun perlu mengenali peralatan yang dimiliki, seperti berapa shutter speed maksimum, berapa bukaan lensa maksimum dan berapa ISO maksimum kamera kita.

 
Design by fotografer.net